Tepat pukul tujuh malam, saya sampai di sebuah warung kopi sederhana, di sebelah sawah yang tetap bertahan di tengah arus pembangunan. Setelah turun dari motor, saya pun menghampiri beberapa teman saya yang sudah menunggu sejak sore. Kedatangan saya bersama teman-teman ke warung kopi tersebut bukan untuk menikmati kopi, atau ngobrol-ngobrol saja. Melainkan kami datang untuk mengikuti diskusi tentang Implikasi MD3 terhadap Student Government System. Tema ini diusung karena UU MD3 menuai polemik di antara mahasiswa di Indonesia.

Di sudut warung kopi saya dapati beberapa pembicara yang telah bersiap menyampaikan pendapat-pendapatnya. Sembari menunggu acara di mulai, saya menyulut sebatang rokok yang telah disediakan teman saya. Maklum, saya memang tidak fanatik membeli rokok, hehe. Tak lupa juga memesan secangkir kopi.

Tak lama kemudian, bertepatan dengan kopi pesanan saya mendarat di meja saya, acara pun dimulai. Peserta diskusi demi pengetahuan yang ingin diserapnya, mulai mengatur formasi tempat duduknya.

Pembicara pada acara kali ini pun terbilang mumpuni dengan hadirnya Akademisi Hukum Tata Negara UIN Malang, Presiden BEM UM, serta kedua Calon Presiden Mahasiswa DEMA UIN Malang. Namun ketika para pembicara mulai masuk dalam forum, ada kejanggalan yang saya rasakan. Yaitu salah satu pembicara yang juga Calon Presiden Mahasiswa UIN Malang. Sontak saya mengambil gawai saya dan menghubungi dia, yang notabene juga masih teman saya. Setelah menghubunginya dan mendapatkan balasan, saya pun merasa tenang. Ternyata kedatangannya diundur oleh panitia, atas permintaan pihak KPU UIN Malang, karena dikhawatirkan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan mengingat salah satu pembicara lainnya juga menjadi Calon Presiden Mahasiswa. Dengan kekhawatiran yang telah melebur itu, saya kembali fokus terhadap diskusi malam itu.

Sekitar pukul Sembilan malam, salah satu pembicara yang juga teman saya akhirnya datang. Moderator pun mempersilahkan dia maju ke depan bergabung dengan forum. Diskusi berlanjut hingga sekitar pukul sebelas malam, dan ditutup dengan penyerahan cinderamata kepada setiap pembicara. Seusai diskusi, pembicara yang juga teman saya itu menghapiri kami untuk obrolan yang lebih panjang.

Hingga tak sadar, jam menunjukkan pukul 01.00 wib. Saya pun beranjak pulang. Sesampai di rumah, saya menyadari bahwa warung kopi merupakan tempat yang pas untuk berdiskusi. Karena, di warung kopi, kita bisa mendapatkan pikiran yang ringan. Jika pikiran tenang, maka diskusi pun akan berjalan lancar, tanpa ricuh.

Banyak orang menyarankan jika ingin mendapatkan pikiran yang tenang, maka salah satu yang kita perlukan adalah asupan secangkir kopi, dan beberapa hisapan kretek. Untuk melakukan ini semua sembari diskusi, maka warung kopi tepat untuk dituju.

Advertisements