Setelah membaca tulisan dari Mas Nuran Wibisono di blog pribadinya tentang perjalanan jauh dengan mengendarai motor, seketika saya teringat dengan perjalanan saya bersama teman saya, sebut saja Aripmas, ke beberapa kota di jawa timur. Meskipun tidak sejauh petualangan di The Motorcycle Diaries yang diceritakan oleh Mas Nuran di blog pribadinya, namun cukup melelahkan. Perjalanan yang kami tempuh hanya perjalanan singkat, ke kota/kabupaten sekitaran Kota Malang saja.

Perjalanan yang kami lakukan ini hanya dalam rangka mengisi jeda pergulatan di kampus. Ini merupakan ide dari teman saya yang kala itu berambut gondrong.

Perjalanan kami mulai pada hari Kamis, 12 januari 2017. Sekitar pukul 7 pagi, saya berangkat ke Masjid Sabilillah di bilangan Belimbing,Kota Malang menggunakan motor matic teman yang sedang dititipkan di rumah saya untuk sebulan ke depan. Di sana telah tampak si gondrong telah menunggu. Cukup lama katanya, haha. “suweee”, gumamnya. Tak jauh dari situ, seorang teman telah menunggu kami. Kepadanya kami meminjam kamera action cam. Maklum, kami hanyalah manusia yang tak punya fasilitas untuk narsis. Tak lama kemudian kamu langsung meluncur ke tempatnya. Setelah semuanya beres, sambil mengucapkan bismillah saya menarik gas motor. Ngeeeeng…..

Tempat yang kami tuju pertama kali adalah kota kelahiran Bung Karno. Di sana kami telah membuat janji dengan teman, sebut saja Reja, untuk ketemuan, karena sebelumnya saya belum pernah ke rumahnnya. Si gondrong yang bersama saya itu pernah ke rumah Reja, sayangnya ia terlalu sering lihat filmnya Mia Khalifa, jadinya lupa. Sekitar pukul 12.30 wib, kami sampai di Kota Blitar. Tepat di warung es sekitaran Stadion Supriyadi, kami menunggu si Reja. Ternyata ia sedang di rumah, dan dia hanya memberi nama daerahnya saja. Sialan..

Akhirnya kami pun menggunakan GPS (Gunakan Penduduk Sekitar). Ternyata rumahnya di Kabupaten Blitar, cukup jauh dari jantung Kota Blitar.

Setelah menghabiskan sekitar satu jam di perjalanan, sampailah kami di rumahnya. Di sana kami disambut hangat oleh keluarganya. Dengan suasana pedesaan yang jarang saya temukan di Kota Malang, saya cukup merasa betah di sana. Jalanan di sana pun masih sepi, tak seperti di Malang yang sudah macet.

Keesokan harinya kami diajak berwisata ke Ranu Gumbolo. Ranu Gumbolo ini merupakan tempat wisata anyar di daerah Tulungagung. Nama tempat ini mirip dengan Ranu Kumbolo. Danau yang memiliki keelokannya. Jika anda pernah mendaki Gunung Semeru, pasti anda tahu. Bentuknya pun mirip, yaitu dua lereng bukit yang terlihat menyatu.

Setelah sarapan, sekitar pukul delapan kami bergegas ke Tulungagung untuk berwisata ke danau Ranu Gumbolo. Di sini, kamera yang kami pinjam mendapat perannya. Karena tempat ini memiliki keindahan alam, yang memaksa anda untuk mengabadikannya dengan jepretan-jepretan a la fotografer.

Puas dengan berfoto-foto ria, kami bergegas kembali ke Blitar mengingat hari itu saya dan si gondrong harus melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya.

Kota tujuan kami selanjutnya adalah kota yang memiliki monumen mirip dengan monumen Arc de Triomphe di Prancis. Ya, ia adalah Kota Kediri. Kota yang mempunyai Kota Tahu ini letaknya tidak jauh dari rumah Reja. Kami berangkat siang dari rumahnya, sesampainya di Kediri sekitar sore an. Memang cukup dekat, apalagi dengan didukung frekuensi lalu-lintas yang lumayan sepi.

Di Kediri, kami berniat mengunjungi teman-teman yang sedang belajar maupun mengabdikan diri mereka di Kampung Inggris, Pare. Sebelum menuju Pare, kami mengunjungi Simpang Lima Gumul (SLG) terlebih dahulu. Bukan apa-apa, kami di SLG hanya mengisi memori kamera yang kami pinjam. Sore itu suasana di SLG sangat ramai. Pengnjung berasal dari mana-mana. Itu terlihat dari nomor kendaraan yang mereka bawa.

Sebelum matahari terbenam, kami melanjutkan perjalanan ke Pare. Sebelumnya kami pernah hidup di sana untuk beberapa pekan. Jadi tidak bingung mengenai rute perjalanan.

Sesampainya di sana, kami langsung menhubungi Sukron, teman si Gondrong yang sedang belajar di Kampung Inggris. Tak lama kemudian ia menunjukkan rute ke kosnya. Untungnya dia ngekos, jadi kami bisa numpang semalam di kosnya. Bagi yang belajar di Pare, ada beberapa jenis tempat tinggal. Antara lain kos, asrama, dan pondok. Untuk asrama dan pondok, pasti telah diorganisir dengan kegiatan-kegiatan yang ada. Jadi kemungkinan besar buat kami untuk menginap adalah di kos Sukron.

Sekitar pukul tujuh malam kami pergi untuk mencari makan. Tidak jauh dari tempat kami makan, ada sebuah café yang cukup ramai. Setelah beres makan, kami ke sana. Waktu itu gerimis tipis sedang mengguyur Kampung Inggris. Di sana, saya merasa bernostalgia. Saya telah menghabiskan liburan-liburan semester saya sebelumnya di sana. Dengan teman baru yang datang dari mana-mana. Bertemu dengan cewek-cewek cantik, yang saya malu untuk berkenalan, haha. Pergi ke warung ketan sore hari dengan mengendarai sepeda. Ah, terlalu banyak kenangan di sana.

Pukul 23.00 wib, kami kembali ke kos. Karena esok saya dan si Gondrong harus melanjutkan perjalanan lebih pagi.

Sabtu, 14 Januari 2017 pukul 08.00 wib kami menuju ke Kota Jombang. Kami akan mengnjungi ke rumah seorang teman perempuan, yang mana sebelumnya telah meminta saya untuk mampir ke rumahnya. Secara ringan hati kami pun menyetujuinya. Dengan berbekal informasi yang ia arahkan, kami pun tiba dirumahnya tanpa bantuan GPS yang sebelumnya kami gunakan ke rumah Reja.

Teman saya bernama Khayil, dia manis. Sayang, dia Korean Junkie.

Dia juga mengundang teman kami lainnya, Husain Namanya. Cukup lama kami ngobrol dengan khayil, hingga kopi di gelas mulai habis, akhirnya si Husain tiba juga. Belum sempat panas bokongnya, saya meminta Husain untuk memandu saya dan si gondrong menuju PonPes Tebu Ireng. Tak lama kemudian, kami bergegas ke Pesantren Tebu Ireng. Di sana kami akan melakukan ziarah ke makam Gus Dur, yang juga merupakan Presiden RI ke-4. Kunjungan ke Makam Gus Dur pada waktu itu merupakan kunjungan pertama saya. Cukup banyak orang yang berziarah di sana.

Seusai berziarah, kami melakukan sholat dzuhur dan kemudian bergegas ke Malang.

Sesampainya di Malang, saya mengantarkan teman saya pulang ke rumahnya, di Tumpang. Suasana di sana cukup dingin, karena masih pedesaan. Oleh karena itu, saya izin untuk bermalam di sana.

Begitulah rangkaian perjalanan kami dengan mengendarai motor. Pegel, namun nikmat. Siapapun harus mencoba berkendara jauh menggunakan motor. Untuk teman-teman yang penasaran dengan petualangan menggunakan motor, langsung lihat film atau baca novelnya The Motorcycle Diaries.

Advertisements