Saat ini saya sedang membaca buku Nice Boys Don’t Write Rock n Roll-nya mas Nuran Wibisono yang saya pesan beberapa pekan lalu melalui Instagram. Saya sudah mengidamkan buku ini sejak perilisannya, tahun lalu. Namun baru kesampaian beli di tahun berikutnya. Menunggu uang pesangon turun.

Setelah tiga hari memesannya, buku itu pun mendarat di tangan saya. Malam harinya, baru saya membaca buku tersebut. Karena, bagi saya waktu yang tepat untuk membaca buku adalah malam hari. Di sudut kamar dengan pencahayaan lampu lilin bewarna kuning. Kesukaan saya. Dari situ antusias membaca saya mulai terbangun.

Sebelum membaca, saya memperhatikan buku ini secara fisik. Dari cover hingga tata letak bab di dalamnya. Terbilang cukup keren untuk sebuah buku di rak saya. Dan tergolong standar untuk untuk sebuah buku tentang musik. Covernya bergambar boombox, kaset pita, dan tak ketinggalan grupies yang notabene penghibur bagi seorang rocker. Mengingat mas Nuran seorang fans hair metal yang bisa dibilang garis keras, munurut saya.

Mengapa saya bilang begitu? Karena di bab 3 (side c), dia mengupas tuntas tentang band-band hair metal. Melalui buku tersebut, dia mengungkapkan mengapa menyukai hair metal karena kaset pertama yang ia beli: Motley Crue. Band legenda di skena hair metal. Musik hair metal pun turut mempengaruhi kehidupannya.

Setelah selesai membaca Side C tersebut, saya terinspirasi membuat tulisan yang hampir sama: musik yang berpengaruh terhadap kehidupan saya.

Saya lahir di akhir abad 20: tahun 1996. Di mana dua tahun pasca kelahiran saya terjadi revolusi besar-besaran di Indonesia. Hingga usia 6 tahun, saya belum menemukan lagu yang saya sukai. Hingga akhirnya Bapak membeli VCD serta beberapa kaset. Antara lain Gombloh, Iwan Fals, Scorpions, hingga Rock Great Hits. Bapak juga punya tape. Tapi saya waktu itu tidak terlalu suka dengan lagu-lagu yang diputarnya: dangdut.

Saat itu saya kelas tiga SD. Setiap Minggu pagi, Bapak selalu memutar kaset CD-nya. Jika bertepatan saya di rumah, otomatis saya mendengarkan juga. Dari sekian CD yang Bapak punya, Rock Great Hits menjadi favorit saya. Waktu itu saya tidak mengerti band-band yang mengisi setlist kaset tersebut. Ada Gun n Roses, Nirvana, Mr. Big, Extreme, Scorpions, dll. Meski begitu, musik nya menarik minat saya untuk memutar terus menerus sepulang sekolah. Dari sekian banyak lagu di CD tersebut, favorit saya adalah Don’t Cry-nya Gun n Roses. Gitar solo Slash memang ampuh untuk membuat seseorang menyukai GNR. Sialan.

Semenjak itu saya menyukai musik rock. Beranjak SMP, dengan durasi pendidikan selama tiga tahun dan bertemu teman-teman baru, saya mulai menyukai musik metal serta semua sub-genrenya. Untuk ini, saya cukup labil. Karena hanya asal dengar, serta mengikuti tren saja. Setingkat lebih tinggi, yaitu SMK, saya menyukai musik hard core. Itu semua tak lepas dari lingkungan teman baru. Bukan hanya mendengarkan musiknya saja, tp juga datang ke acara-acaranya di berbagai gedung kota Malang. Hardcore sendiri bukan tentang musik saja, namun semangat hidup.

Setelah lulus SMK dan belajar kehidupan a la hardcore, saya melanjutkan pendidikan di salah satu kampus negeri di Kota Malang. Semakin dewasa saya, saya lebih bisa menerima berbagai jenis genre. Di awal semester saya mendengarkan Metallica, Nirvana, Iron Maiden, Lamb of God, dan banyak lainnya. Terbilang terlambat untuk mendengarkan lagu-lagunya. Namun tak ada band yang tumbuh bareng saya yang berhak saya dengarkan. Namun dari banyak band yang saya sukai, saya harus mengorbankan demi satu band favorit. Kalo mas Nuran mengorbankan Motley Crue, yang notabene mengenalkannya terhadap dunia hair metal, saya mengorbankan Nirvana untuk Metallica. Karena Nirvana terlalu depresi untuk pemuda seperti saya.

Mengapa Metallica? Tanpa pertimbangan pastinya. Band heavy metal lainnya pun juga keren. Sebut saja pencetus heavy metal, Black Sabbath. Kurang keren bagaimana hingga vokalisnya pernah menggigit kepala kelalawar? Iron Maiden? Sekedar suka beberapa lagunya. Riff-riffnya juga tidak membangkitkan gelora jiwa saya.

Entah mengapa saya suka Metallica. Seperti kata pepatah, cinta itu buta. Ya begitulah. Mungkin saya suka dengan riff-riff berat Kirk Hammet yang berat dan ia juga murid dari salah satu gitaris favorit saya, Joe Satriani.

Meskipun begitu, sebagai orang Indonesia kita tidak boleh melupakan identitas. Yaitu musik dangdut. Terkhusus, bagi saya, dangdut koplo. Bagaimanapun liriknya, musiknya selalu bikin pendengarnya goyang. Saya teringat pesan dari seorang teman, yang juga merupakan musisi band hardcore yang terbilang band lawas di Malang. Dia pernah berkata kepada saya,” masio awakmu seneng metal, hardcore, hip-hop. Tapi ojo lali ambek identitasmu, dangdut.” Kata-kata yang selalu saya kenang.

Advertisements