20190419_185248_0000
Konsumsi Telinga merupakan tulisan saya mengenai beberapa lagu atau musik yang layak didengar. Tentu menurut saya sendiri. Jadi, jika anda tidak suka, itu bukan urusan saya. Dan sebaiknya pikir dua kali sebelum meneruskan membaca.

Sebelumnya saya sudah beberapa kali membaca daftar lagu yang diterbitkan oleh majalah, atau blog pribadi beberapa penulis musik. Sesikopipait milik mas Samack, misalnya. Dari situ saya terdorong untuk menulis ini. Ditambah lagi dari celetukan dari kolega yang menyarankan saya untuk membuat song chart list karena menurutnya selera music saya such a weird. Konyol. Tapi, terima kasih. Karenanya saya bisa mengeluarkan beban yang ada di otak.

Kali ini saya akan membuat daftar lagu yang bisa menjadi soundtrack bagi kalian yang tetap terjaga di kesunyian malam. Tentu lagu ini tidak akan menghangatkan. Mungkin bisa membuat anda menjadi menikmati dingin. Barangkali. Apalagi Kota Malang sedang dingin-dinginnya saat ini.

Oke, kita mulai saja.

  1. Sigur Ros

Beberapa orang memang tidak tahu tentang band ini. Sigur Ros merupakan band avant-rock yang berasal dari Islandia. Islandia, negara di mana yang menganggap Viking adalah nenek moyangnya.

Avant-rock juga bisa disebut experimental rock. Tentu itu bisa dilihat dari alat musiknya. Bayangkan, ia menggunakan busur biola untuk memainkan gitar. Terobosan baru.

Lagu ini sangat nyaman didengarkan di kamar ketika menjelang malam dan dingin terus menyerang. Saya sarankan, anda pergi ke dapur dulu untuk membuat teh hangat. Setelah itu putar lagu-lagu Sigur Ros. Dan jangan lupa lampu kamar diredupkan. Islandia is your room!

Untuk lagu Sigur Ros favorit saya adalah Olsen-Olsen.

  1. Dialog Dini Hari

Sesuai namanya, lagu-lagu dari band ini memang cocok untuk malam hari. Pastinya tidak semua lagu. Tapi mayoritas lagunya memang nyaman untuk telinga-telinga yang Lelah diceramahin dosen pembimbing skripsi. Bak oase di padang pasir.

Unit folk asal Bali ini telah melalang buana di festival-festival musik nasional, bahkan internasional. Baru-baru ini, band yang digawangi tiga orang ini bermain di acara Taiwan Pasiwali Festival. Bisa bermain di kancah internasional merupakan sebuah pencapaian dari sebuah proses yang amat panjang tentunya. It’s my favorite folk ever.

Ketika kamu memutar lagu-lagu Dialog Dini Hari, saya pastikan anda akan terhipnotis oleh petikan gitar Mas Dadang.

Lagu Dialog Dini Hari favorit saya adalah Aku Adalah Kamu. Lagu tentang kesetaraan kita sebagai manusia.

Kendati doa terucap beda/Anugerah yang sama kita terima/Aku adalah kamu/ manusia yang sama//

Matahari takkan terlihat beda dari tempatmu/Bulan dan bintang ‘kan terlihat sama dari tempatmu/Dan memberikan cahaya yang sama untuk kita//

  1. Sisir Tanah

Unit folk asal Jogja ini tergolong pendatang baru di skena folk Indonesia. Meski sudah berdiri sejak tahun 2010, Sisir Tanah baru merilis satu album pada tahun 2017. Album itu berjudul “WOH”, yang artinya adalah buah. Album ini dikenalkan kepada Indonesia melalui tour yang bertajuk “Harus Berani Tur 2017”. Salah satu kota yang disambangi adalah Kota Malang. Perkenalan saya dengan Sisir Tanah dimulai dari momen itu.

Tema yang dibawakan di album ini berisi kritik sosial. Meski menurut Sisir Tanah inti dari lagu-lagunya adalah cinta dan damai.

Unit folk yang digawangi hanya satu orang, yaitu Bagus Dwi Danto ini sangat layak didengarkan di malam hari yang tenang. Dengan petikan gitar yang sederhana, saya yakin pesan-pesan yang dibawakan melaui lirik yang cukup kritis akan mudah dicerna oleh manusia.

Lagu Hidup menjadi favorit saya sejak mengenal Sisir Tanah. Lagu yang mengajak kita untuk menjaga alam dan peduli dengan lingkungan sekitar.

Kita akan slalu butuh tanah/Kita akan slalu butuh air//

Kita akan slalu butuh udara/jadi teruslah merawat//

  1. Navicula

Band yang selalu saya nanti-nati kehadirannya di Malang. Unit alternative rock asal Bali ini cukup menarik bagi saya. Lagu-lagunya berisi tentang kritik sosial. Musiknya menampilkan khas Seattle Sound seperti Pearl Jam, Soundgarden, bahkan Nirvana. Meski begitu, bukan berarti lagu-lagu dari band yang dijuluki “the Green Grunge Gentlemen” ini tidak cocok didengarkan di malam hari.

Navicula sendiri telah menelurkan delapan album sejak 1996. Yang mana salah satu albumnya direkam secara langsung versi akustik: Tatap Muka.

Satu albumnya yang tidak pernah luput dari midnight playlist saya. Album yang dirilis pada tahun 2015 ini tiak beraura Seatle Sound sama sekali, namun lebih ke folk.

Ketika memutar album ini, saya langsung jatuh cinta kepada lagu pertama: Dead Trees. Lagu ini membawa pesan bahwa banyak hutan-hutan di Indonesia yang telah “digundulkan”.

Dead trees marking my way/it all disappears/that’s why I’m here//
I keep finding my way/so that one day/
My darling we’ll walk through the green//

  1. Scorpions

Saya masih ingat bagaimana pertama kali saya kenal band ini. Waktu itu hari Minggu, Bapak mengajak ke Comboran, salah satu pasar loak di Kota Malang. Di sana Bapak mencari kaset-kaset, atau barang bekas lainnya yang masih layak pakai. Di lapak kaset, Bapak membeli sebuah album CD yang judulnya Scorpions Greatest Album.

Setelah sampai rumah, Bapak langsung memutar di vcd. Ternyata itu konser live Scorpions di Lisbon. Dari situ saya tahu Scorpions.

Semenjak itu, lagu-lagu yang dibawakan di konser tersebut menjadi lagu Scorpions favorit saya sepanjang masa.

Ketika saya ingin bernostalgia dengan masa kecil, saya cukup memutar lagu-lagu tersebut. Pastinya pada malam hari.

Advertisements