Yogyakarta tidak henti-hentinya menciptakan musisi berkualitas. Sisir Tanah salah satunya. Musisi yang berasal dari Bantul ini beraliran folk. Berdiri pada tahun 2010, unit folk yang digawangi hanya satu orang, Bagus Dwi Danto, telah menciptakan banyak lagu. Semua lagunya bertema kritik sosial. Meski pada website resminya telah disebutkan bahwa, pada intinya pesan-pesan yang dibawa oleh Sisir Tanah adalah Cinta dan Damai.

Satu tahun lebih tiga bulan yang lalu, Sisir Tanah menciptakan sebuah album perdana. Ia bertajuk “WOH” yang di dalam bahasa jawa artinya buah. Untuk mempromosikan album tersebut, Sisir Tanah melakukan sebuah tour bertajuk “Harus Berani Tur” ke berbagai kota. Diawali dari Jakarta, dan diakhiri di kampung halamannya, Jogja.

Album debut ini berisi 10 lagu, dengan petikan gitar Bagus Dwi Danto yang sederhana. Saking sederhananya, musiknya bisa membuat pendengarnya merenenungi liriknya dengan seksama. Lagu-lagu di album ini merupakan relalita sosial lingkungan sekitar yang sering kita temui.

Seperti pada lagu pertama di album ini, “Lagu Hidup”. Melalui lagu ini, kita diajak merenung betapa kita sangat membutuhkan alam dan lingkungan sekitar. Maka dari itu, kita sebagaimana manusia harusnya tetap menjaga alam dan menjaga baik hubungan antar manusia. Pesan-pesan tersebut tersampaikan oleh lirinya yang sederhana. “Kita akan slalu butuh tanah, kita akan selalu butuh air, kita akan slalu butuh udara, maka teruslah merawat.” Pesan yang sangat jelas, saya kira.

Di lagu selanjutnya, “Obituari Air Mata”, Bagus mengajak kita berintrospeksi. ”Kita tuan pada masing-masing, keinginan-keinginan / kita tuan pada masing-masing, kebohongan-kebohongan / kita tuan pada masing-masing, keputusan-keputusan / kita tuan pada masing-masing, kehilangan-kehilangan.” Melalui lirik tersebut, sangat jelas bahwa semua yang kita lakukan adalah kehendak kita.

Terkadang Sisir Tanah juga puitis nan sendu. Seperti pada “Lagu Wajib.” “yang wajib dari kita adalah cinta / yang wajib dari cinta adalah mesra / yang wajib dari mesra adalah rasa / yang tak wajib dari rasa adalah luka.” Atau pada “Lagu Romantis”: ”Kasih melangkah denganku, lalui luka hadapi gelap / kasih pegang erat tanganku, nikmati kita tanpa air mata.” Mengandung cinta yang tulus.

Selain sederhana, Sisir Tanah juga memliki absurditas yang sempurna pada lagu-lagunya. Saya setuju dengan mas Aris Setyawan, bahwa menurutnya lagu “Kita Mungkin” dan “Konservasi Konflik” merupakan abisurditas. Betapa tidak, lihat saja liriknya di lagu “Kita Mungkin” : “Kita mungkin hanya jejak luka yang letakkan letih sebentar.” Atau “Kamu kemana hari ini? aku menyambung jembatan putus, menyambung lidah buaya/ memandikan kamar mandi, melatih babi terbang, Rajawali butuh teman yang lucu-lucu, melukis langit merah muda, menanam jagung di kebun kita.” Absurditas favorit saya.

Ajakan untuk tetap kuat berjuang. Terlihat dari lirik “Lagu Pejalan”: “kita berjalan saja masih slalu berjalan, meskipun kita tak kunjung tahu ujung jalan ini.”

Karena kita manusia hidup, kita sebaiknya membuat kehidupan kita menjadi bahagia. Pesan seperti itu tersemat pada “Lagu Bahagia”. Sesuai judulnya, lagu ini bernuansa ceria. Satu-satunya lagu pada album ini yang menggunakan alat musik drum. “Nyanyikanlah harapan, perjuangkan tujuan/ bahagia kehidupan, bahagia kehidupan.” Lagu yang sering saya ulang-ulang saat baru saja membeli album ini.

Dua lagu terakhir membuat saya merenung lebih intens. “Lagu Lelah” dan “Lagu Baik. Intro pada “lagu Lelah” membuat saya memainkan air acoustic. Cukup nyaman di telinga saya. Apalagi ketika mulai memasuki chorus: “Sesat hidup kesunyian sampah bicara / bahasa kita sembunyi benar bunyi bohong.” Begitu absurd liriknya, saya belum bisa menjelaskan pesan yang dibawa oleh lagu ini.

Di lagu terakhirnya, sekaligus menjadi penutup dan berharap album ini meninggalkan kenangan dan perubahan, Sisir Tanah mengirim pesan optimis melalui dan semangat baik “Lagu Baik”: “Panjang umur keberanian, mati kau kecemasan dan ketakutan / panjang umur keberanian, mati kau ketidakadlian dan penindasan / panjang umur keberanian, mati kau kebenaran yang dipaksakan / panjang umur, semangat baik, semangat baik…

Sejalan dengan mas Aris Setyawan, lagu-lagu Sisir Tanah memang cocok didengarkan ketika hujan mengguyur. Saya tambahi, apalagi waktu malam hari. Lebih tenang. Dan lebih kuat mendorong kita merenunginya secara intens.

Semangat baik!!!

Advertisements