Perkembangan zaman membuat sumber daya manusianya harus ikut berkembang pula. Sebab, kita akan tergerus oleh zaman jika kita tak turut berkembang. Prinsip ini juga terjadi pada sebuah label rekaman. Karena semakin praktisnya kehidupan, toko rekaman mulai ditinggalkan oleh banyak orang yang mengaku suka mendengarkan musik. Kebanyakan orang lebih senang mendengarkan lagu melalui gawainya. Karena memang praktis. Sekedar menyentuh layar gawai dan memilih aplikasi pemutar musik, seseorang bisa mendengarkan musik kesukaannya. Bahkan mungkin orang tersebut tidak tahu lagu atau musik itu asli atau bajakan. Atau bahkan harus punya sejumlah uang untuk bisa merilis sebuah lagu atau album.

Agar industri musik tetap berjalan lancar, pendengar bisa mendengarkan lagu asli dan musisi bisa merekam lagunya, terbentuklah sebuah netlabel. Netlabel adalah sebuah label rekaman yang mengandalkan internet dalam pendistribusiannya. Secara otomatis, bentuk rilisannya pastilah digital. Netlabel pertama di dunia adalah Afterbeat yang dibentuk pada tahun 2005. Sedangkan di Indonesia, ada Yes No Wave. Dibentuk pada tahun 2007, Yes No Wave menjadi netlabel pertama di Indonesia. Netlabel yang bermarkas di Yogyakarta ini telah merilis lebih dari 80 album digital, dari musisi Indonesia maupun mancanegara. Album-album tersebut bisa diunduh secara gratis di laman resminya.

Adanya sebuah netlabel tentunya sangat menguntungkan bagi pendengar atau musisi itu sendiri. Pendengar bisa mengundahnya secara cuma-cuma, dan itu legal bahkan produknya asli. Untuk musisi, namanya bisa dikenal oleh para music snoob.

Hadirnya Yes No Wave, semakin menambah pengetahuan saya tentang band-band berkualitas yang kurang diketahui banyak orang. Tentunya ini sebuah keuntungan bagi saya. Bak menemukan harta karun di bawah tanah.

Saya menulis ini karena terinspirasi dari tulisan Vice tahun lalu. Di sana, ia memberi panduan bagaimana cara menyelami harta karun album digital yang disajikan oleh Yes No Wave, dalam rangka memperingati 10 tahun berdirinya Yes No Wave. Dari panduan itu, saya mengunduh beberapa album. Yang lain saya unduh berdasarkan ketertarikan saya, dengan melihat betapa kerennya cover albumnya.

Saya telah mengunduh 10 buah album di Yes No Wave, dari berbagai jenis genre. Tentu tidak semuanya saya suka. Hanya beberapa. Namun dari semua album tersebut, saya menemukan hal-hal baru. Kalau kata vice, Folk Anti Senja. Yang dimaksud adalah album Renjana dari Rabu. Ketika saya dengarkan, memang tak cocok didengarkan di tenangnya sore, senja, atau hujan. Malah lebih cocok didengarkan dikeheningan malam. Dua folk ini sangat cerdik mengemas lagu-lagunya untuk menikmati gelapnya malam. Album ini berisi 8 lagu, dengan judul-judul yang puitis. Dru, semayam, hingga Telaga Kasih. Bukan dengan kopi, the hangat, atau bahkan bir untuk mendengarkan album ini. Cukup dengan suasana yang sunyi, anda bisa meresapinya.

Atau Dialita. Album ini terdiri dari 10 lagu, dan dibawakan oleh beberapa artis ternama. Seperti Sisir Tanah, Cholil Mahmud bahkan Frau. Sekilas sih biasa saja. Coba dengarkan ini setelah memutar album Renjana milik Rabu, sembari melihat-lihat arsip G30S. Lirik lagu pembuka “Ujian”, menurut saya bisa membuat pendengarnya deg deg ser. Ditambah alunan musiknya. “dari balik jeruji besi, hatiku diuji/apa aku emas sejati, atau imitasi.”

——

Setelah Nirvana merilis Nevermid, disitulah karir hair metal mulai terancam. Terbukti dari beberapa band yang albumnya tergolong gagal ketika perilisannya pasca Nevermind lahir. Namun, di Indonesia tidak mengamini bahwa masa hair metal telah usai. Terbukti dari munculnya sebuah band hair metal 80-an asal Jogja, Sangkakala. Band yang dibentuk oleh mahasiswa lulusan ISI ini telah menerbitkan EP perdananya di Yes No Wave. Lagu-lagunya mengingatkan pada lagu-lagu hair metal lawas. Saya bersyukur masih ada band seperti ini di Indonesia. Karena jauh-jauh hari sebelum kenal Sangkakala, saya sempat berfikir untuk membuat band sejenis GnR. Namun tak terwujud juga sampai detik ini. Sangkakala telah menyelamatkan genre hair metal di Indonesia.

EP nya berisi 6 lagu. Dibuka dengan “Into The Row”dan ditutup oleh “Tong Setan”. Sebelum memiliki album kedua, setiap shownya Sangkakala memainkan 10 lagu. Kok 10? Yang 4 dari mana? Yang 4 adalah lagu “Tong Setan” yang dinyanyikan sebanyak empat kali. Jadi genap 10. Hair Metal yang gokil. Menonton konser livenya di Kota Malang telah menjadi cita-cita saya, dan semoga kelak terwujud.

——

Yes No Wave juga menyuguhkan musik folk tradisional, Semakbelukar. Dengan musik tradisional Sumatera Selatan, band yang berasal dari Palembang ini membawa nuansa berbeda dengan folk pada umumnya. Liriknya pun cukup dalam nan religius. Sempat merubah opini saya tentang orang Palembang yang keras. Mendengar Semakbelukar sama halnya mendengar musik Timur Tengah, hanya beda liriknya. Lagu-lagunya cocok didengarkan di sore hari dengan pemandangan sungai musi, pastinya.

Namun saying, unit folk sebagus ini hanya berusia empat tahun. Berdiri pada tahun 2009, dan berakhir pada tahun 2013. Akhir dari Semakbelukar terjadi dalam sebuah gigs di Kineruku. Cukup dini. Namun kita tidak tahu seperti apa yang terbaik bagi mereka.

Sejauh ini hanya itu suguhan dari Yes No Wave yang menjadi Favorit saya. Kalian yang suka dengan musik-musik baru, nikmati suguhan-suguhan yg telah dihidangkan di situs resminya.

Advertisements