Sejak kecil, saya telah menyukai musik, atau lebih tepatnya lagu. Dari lagu beraliran dangdut, hingga rock sekalipun. Itu semua dipengaruhi oleh bapak saya, yang hampir setiap minggu mengajak saya membeli CD di daerah pasar besar Malang. Sepulang membeli CD, bapak langsung memutar CD yang telah dibelinya. Bapak biasa memutarnya di VCD jadul yg dibeli bekas di pasar loak, lalu disambungkannya ke sound sehingga terdengar hingga teras rumah. Mau tak mau, saya harus mendengarkannya sembari bermain di halaman rumah. Berbagai genre terputar di VCD tersebut. Dari dangdut, hingga rock n roll. Untuk dangdut, bapak adalah penggemar Roma Irama, jadi, suara gendang yang keluar dari sound bisa dipastikan bahwa yang bapak putar adalah CD Roma Irama.

Dari situ, selera musik saya mulai berkembang. Saat saya SD, ada sebuah acara tv yang hampir tayang setiap jam, yaitu MTV. Dari acara tersebut, yang paling saya suka adalah MTV Ampuh, yang menampilkan 20 daftar lagu beserta video klipnya. Hampir setiap pulang sekolah, saya tidak absen menonton acara tersebut. Hingga lagu-lagu baru yang enak didengar kala itu, menjadi obrolan saya bersama teman-teman.

Waktu terus berlanjut, di SMP, genre Metal mulai masuk radar saya. Di situ saya sering mendengarkan musik-musik metal, yang liriknya pun kurang tertangkap pemahaman saya. Dari situ, saya hanya suka musiknya saja yang bergemuruh membakar semangat. Ketika saya pergi ke warnet, saya sempat mencari referensi tentang metal. Dari situ saya menapatkan informasi tentang sub-genre Metal seperti heavy metal, death metal, dsb. Saya pun sadar, yang saya suka adalah Heavy Metal, seperti Metallica, Iron Maiden, dan bukanlah Death Metal yang musiknya sangat “kacau” seperti Nile misalnya.

Setelah lulus SMP, saya melanjutkan ke SMK. Di SMK, saya mendapatkan banyak teman baru dengan latar belakang selera musik yang berbeda-beda. Ketika di SMP saya terperangkap di lingkungan musik metal, di SMK saya mulai melebarkan sayap ke genre musik lain yang ngetren pada masa itu. Teman-teman baru saya berangkat dari musik hardcore. Dari situ, radar saya mendeteksi musik hardcore. Konsumsi saya waktu itu pun berubah dari metal ke hardcore. Namun, menurut saya pribadi, ada kesamaan antara musik metal dan harcore, yaitu musiknya yang membakar semangat dan tidak cengeng.

Di era SMK, ada perkembangan pada selera musik saya yang membuat saya tidak hanya mendengarkan musik saja. Namun juga mencari tulisan-tulisan yang membahas tentang musik. Tak ada tolok ukur untuk bacaan yang say abaca kala itu. Yang penting semua yang tentang musik saya baca dan saya cari di internet. Berangkat dari facebook, saya menemukan mas Samack dan blog pribadinya. Semua tulisan yang disuguhkan saya baca. Hingga kuliah, musik-musik yang saya dengarkan saya dapatkan dari blog tersebut.

Berkembang lebih lebar, sering juga berkembangnya teknologi, saya menemukan penulis-penulis sangar melalui media sosial. Yang paling saya suka hingga saat ini adalah Elevation, yang telah menerbitkan buku-buku musik sangat bagus. Dari buku-buku yang diterbitkannya, saya mendapatkan musik-musik baru. Namun, apa yang saya dapatkan bukanlah musik yang baru dirilis, melainkan musik lama yang baru saya temukan. Berangkat dari situ, ide saya menulis tulisan ini.

Di tahun 2018 saja, saya mendapatkan album-album bagus dari buku yang diterbitkan oleh Elevation. Album Arcade Fire yang The Suburbs misalnya. Saya pun sadar, setelah mendapat tamparan keras dari Elevation bahwa masih banyak musik-musik yang layak dengar namun tidak populer di kalangan saya. Dari situ, saya berpikiran bahwa musik bukanlah barang yang memilik tenggat kadaluarsa. Mencari musik baru merupakan hal yang penting bagi siapapun yang menyukai musik. Secara tidak langsung, kita telah mengapresiasi musik. Bagi siapapun yang suka musik populer, EDM misalnya, bisa mencari musik EDM era awal. Itu menunjukkan bahwa kita tidak hanya mendengarkan musik saja. Namun juga peduli terhadap selera musik kita. Namun sayangnya, beberapa tulisan tentang EDM yang saya baca tidak membuat saya terpikat kepada musik yang membuat orang hanya berjoget-joget saja.

Mencari musik-musik lama adalah salah satu cara memperbarui pengetahuan musik seseorang. Tercipta dari era kapanpun, jika musik tersebut nyaman di telinga, pastilah kita akan mendengarkannya. Maka dari itu, tak ada jalan buntu dalam pencarian musik baru, selama kita mau mencari.

Advertisements