20190419_185248_0000

2018 menjadi tahun di mana saya mulai mengkonsumsi musik lebih gila dari tahun sebelumnya. Meski tak pernah mengunjungi sebuah acara musik sama sekali. Sudah lama saya kehilangan selera untuk datang ke sebuah acara musik. Entah kenapa. Namun, di tahun 2019 ini saya sudah berjanji untuk menyempatkan datang ke sebuah acara musik. Semoga berhasil.

Kembali ke tahun 2018. Di tahun 2018, saya membeli 4 buku tentang musik dan sebuah rilisan fisik berbentuk CD. 3 buku di antaranya adalah buku rilisan lokal: Flip Da Skrip; New Dawn Fades; dan Jurnalisme Musik, sedangkan 1 buku sisanya adalah buku rilisan luar negeri: Last of the Giants, buku biografi Guns n Roses. Dari buku-buku tersebut, terkhusus 2 buku pertama yang saya sebutkan, saya mendapat banyak musik baru, yang menjadi top 10 songs of 2018. Pastinya, kebanyakan lagu-lagu tersebut bukan lagu yang tercipta di tahun 2018, namun lagu-lagu yang saya dapat di tahun 2018 dan kebetulan menjadi favorit.

Mungkin sedikit terlambat untuk menuliskan list ini, pasalnya para music writer membuat list seperti ini di akhir tahun 2018. Sedangkan saya, malah menulis di awal 2018. Yet, I don’t care!

Oke, berikut ini adalah daftar 10 lagu yang menjadi favorti saya di tahun 2018.

Nb: Urutan nomor tidak menentukan kualitas.

  1. Dire Straits – Skateway

Lagu ini tidak saya dapatkan dari buku maupun cd yang saya beli di tahun 2018. Melainkan saya menemukan lagu ini ketika berselancar di YouTube. Ketika itu, di kolom saran ada video lirik Dire Strait yang berjudul Sultan of Swing. Saya pun seketika jatuh cinta dengan lagu tersebut. Akhirnya, saya mencari di webzine ternama, Pitchfork. Sayangnya, saya tak menemukan artikel tentang album-album Dire Straits. Saya hanya menemukan album-album favorit para penulis Pitchfork. Dan di situ, saya menemukan album Making Movies (1980). Setelah itu, saya mencari album ini dan mengunduhnya secara cuma-cuma. Dan ketemulah dengan lagu ini, yang menjadi favorit saya di album Making Movies.

Making Movies adalah album studio ketiga Dire Straits yang dirilis pada 17 oktober 1980 oleh Vertigo Records di AS. Album ini memiliki sebuah single gebrakan yang berjudul Romeo and Juliet dan menempati urutan ke 8 pada UK Singles Chart. Meski begitu, Skateway-lah yang menjadi favorit saya. Entah kenapa, memang saya kurang piawai untuk mendeskripsikan musik. Akan lebih baik jika anda mendengarnya secara langsung. Hehe

  1. Eric B. & Rakim – Paid In Full

Saya menemukan lagu ini dari buku Herry Sutresna aka Ucok yang berjudul Flip da Skrip terbitan Elevation. Seluruh isi buku ini mengulas musik hip-hop dari berbagai sisi. Di sini, penulis juga menyertakan lagu-lagu favoritnya dari tahun 2007-2017. Dan dari situ, saya menemukan Eric B. & Rakim dengan albumnya yang berjudul Paid in Full yang seperti dijelaskan Ucok pada bukunya bahwa album ini adalah awal era keemas an hip-hop dibuka, meski menuai pedebatan.

Sebenarnya, saya kurang minat dengan musik hip-hop. Hanya beberapa lagu saja yang saya suka. Di album ini, lagu yang saya suka memiliki judul yang sama dengan judul albumnya, yaitu Paid in Full. Album Paid in Full yang saya dapatkan, mengandung 3 lagu yang berjudul Paid in Full: Paid in Full berdurasi 7 menit, Paid in Full berdurasi 5 menit, dan Paid in Full berdurasi 3 menit. Perbedaan pada masing-masing lagu tersebut adalah sample musiknya. Semakin lama durasi, semakin banyak sample yang digunakan, dan juga berbeda.

Yang membuat saya suka dengan lagu ini adalah musiknya dan suara piringan hitam yang digesek-gesek menggunakan tangan (saya tidak tahu nama tekniknya) yang mengundang hip-hop heads untuk melakukan breakdance.

  1. John Mayer – New Light

Lagu ini menunjukkan bahwa saya bukan orang yang anti-mainstream. John Mayer adalah musisi yang menurut saya sangat cerdas dalam menciptakan karya. Dari masalah asmara (red. Patah hati), dia bisa menciptakan lagu-lagu yang sangat berkualitas. Album Continuum salah satunya.

Untuk lagu ini, saya tidak terlalu menaruh perhatian terhadap liriknya. Yang membuat saya terpikat dengan lagu ini adalah musiknya yang terpengaruhi musik soul 80-an dan diwarnai dengan gitar disko.

  1. Immortal Technique – Speak Your Mind

Untuk urusan hip-hop, saya mendapatkannya dari buku Ucok yang telah saya sebutkan sebelumnya. Lagu ini adalah lagu Immortal Technique pada album debutnya yang rilis pada tahun 2001. Penjelasan Ucoklah yang membuat saya penasaran dengan grup hip-hop ini.

Setelah saya mencari album ini, saya pun tercengang dengan sampulnya yang menyertakan lambang seperti lambang komunis, palu arit yang mana aritnya diganti dengan microphone. Dari sini saya ngeh. Saya kira lambang ini milik homicide, karena sebelumnya saya tahu lambang ini dipakai oleh homicide. Ternyata ini milik Immortal Techique.

Setelah mendengarkan lagu-lagu di album ini, saya jatuh cinta dengan lagu Speak Your Mind. Speak Your Mind merupakan lagu tersembunyi pada penghujung album. Di sini, Immortal Tech berkolaborasi dengan seorang MC bernama Diabolic. Lagu ini berisikan bar mengerikan yang mengajak siapapun yang mendengarkan untuk mengungkapkan apa yang dirasa benar. Jika lagu ini terlahir di Indonesia dan oleh warga Indonesia pada era OrBa, saya yakin yang menciptakannya akan hilang seperti Wiji Thukul.

  1. Ill Bill – White Niger

Lagi-lagi musik hip-hop. Cerita perjalanan atau proses pertemuan saya dengan lagu ini tak berbeda dengang pertemuan-pertemuan dengan musik hip-hop seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya.

Yang membuat saya suka dengan lagu ini adalah musiknya. Ill Bill menggunakan sample dari lagu “Through the Fire and Flames” milik Dragon Force. Itulah daya tarik pertama yang saya dapat. Setelah mendengarkan liriknnya, ternyata Ill Bill, melalui liriknya, sedang menceritakan tentang perkembangannya di dunia hip-hop, serta multikulturalisme New York.

  1. Arcade Fire – The Suburbs

Yang mempertmukan saya dengan Arcade Fire adalah buku terbitan Elevation yang berjudul New Dawn Fades (2018). Pada buku tersebut, ada sebuah ulasan album The Suburbs milik Arcade Fire. Saya cukup terhipnotis dengan kalimat sang penulis di awal paragraf tentang Arcade Fire yang merupakan “sebuah kelompok musik yang secara konsisten telah menghasilkan album-album bagus.” Kalimat yang membuat saya berkesimpulan bahwa Arcade Fire adalah band dengan karya-karya yang mantap. Penulis juga menuliskan bahwa The Suburbs adalah album bagus yang juga bisa menjadi kandidat kuat album terbaik tahun 2010.

Setelah membaca hingga selesai, saya pun segera mengambil ponsel saya dan mendengarkan melalui layanan spotify.

Benar saja, sang penulis tak bohong. Benar-benar album yang bagus. Yang menjadi favorit saya di album ini adalah lagu yang judulnya sama dengan judul albumnya, yaitu The Suburbs, lagu dengan musik yang menurut saya cukup ceria. Win Butler berkisah tentang wilayah suburban yang tak kalah kejam dengan metropolitan.

Jika penasaran, coba dengarkan saja. Band ini tergolong band pop kok. 😊

  1. The National – About Today

Saya cukup sering melihat nama band ini diberbagai buku musik. Namun yang paling sering di buku-buku yang ditulis oleh Taufiq Rahman. Namun waktu itu saya belum berminat mencari dan mendengarkannya. Saya terakhir kali menemukan The National di buku New Dawn Fades. Di situ, penulis menyebut suara sang vokalis yang bariton. Saya pun penasaran dengan suara bariton. Dari situ saya pun memutuskan untuk mencari dan mendengarkannya.

Di buku itu, penulis mambahas album high violet milik The National. Namun, saya lebih memilih mendengarkan EP Cherry Tree. Entah siapa yang mengontrol saya menuju EP ini. Setelah mendengarkannya, saya langsung jatuh cinta dengan lagu nomor 5 yang berjudul About Today.

Diawali dengan suara bass drum diiringi petikan gitar yang sangat bersih, Matt Berninger dengan suara baritonnya mengisahkan tentang kehilangan. Dengan tema kehilangan dan petikan gitar yang sempurna, lagu ini memang cocok diputar di malam hari. Apalagi saat kamu setelah putus, mampus kau! Ha!

  1. Silver Jews – Random Rules

Setali tiga uang dengan The National, Silver Jews juga merupakan band yang saya dapat dari buku New Dawn Fades. Namun, di buku ini tak ada judul khusus yang membahas tentang Silver Jews. Saya menemukannya pada pembahasan The National yang turut menyinggung Silver Jews karena kemiripan suara bariton sang vokalis.

Saya belum banyak mendengarkan Silver Jews. Namun, setelah mendengarkan album American Water-nya, saya teringat dengan band twee pop asal Glasgow Belle and Sebastian.

Setelah mendengrkan American Water, lagu berjudul Random Rules selalu terngiang-ngiang di telinga. Ternyata, saya jatuh cinta dengan lagu ini. Ada sepenggal lirik yang membuat saya tertegun di akhir lagu di mana David Berman atau Steve pada lagu ini bertanya kepada seorang pelukis mengapa jalan raya berwarna hitam. (?) keren!

  1. Tani Maju – C70

Saya selalu suka dengan karya-karya Tani Maju. Saya tahu band ini sejak SD, saat CD live performance di Trawas, Mojokerto, tersebar luas di Kota Malang. Saya tak punya CD itu, namun dari kakak saya yang meminjam pada temannya, saya pun tahu Tani Maju. Dari CD tersebut, Tani Maju terlihat seperti seniman jalanan dengan dandanan yang nyeleneh. Ternyata, para personil Tani Maju adalah lulusa Universitas Negeri Malang. Dan ketika SMK, saya baru sadar bahwa vokalisnya mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah saya. Namun, dia tak mengajar di kelas saya.

Setelah itu, saya mulai mengikuti Tani Maju lewat media sosial. Pada tahun 2017, Tani Maju merilis album barunya yang berjudul “Beda Topi Miring Bersama.” Album tersebut terdiri dari 13 lagu. Saya belum sempat membeli albumnya, hanya mendengarkan melalui Spotify.

Pada waktu perilisan di Brawijaya Park, saya juga tak sempat datang. Selang beberapa minggu, ada seseorang yang merekamnya dan diunggah di YouTube. Video tersebut adalah video Tani Maju yang membawakan lagu C70 saat pesta perilisan album. Itu lagu pertama dari album Beda Topi Miring Bersama yang saya dengarkan. Saya pun langsung suka dengan lagu ini. tetap dengan suara keroncong dari ukulele dan pukulan gendang yang membuat musik Tani Maju memiliki kekhasan tersendiri.

  1. MV x Doyz – CSDB FM

Sudah lama saya menggemari karya-karya Ucok Homicide, meski saya bukan seorang hip-hop head. Lirik-lirik Ucok selalu membakar. Entah membakar semangat, atau malah membakar telinga serta emosi kaum penindas.

Di penghujung tahun 2018, ada sebuah pengumuman di akun twitter Ucok bahwa akan ada sebuah album barunya yang berkolaborasi dengan Doyz. Seperti perlisan album kompilasi “Pretext 4 Bumrush”, Ucok membocorkan sebuah single sebelum albumnya dirilis. Jika di album kompilasi Pretext ada Radio Raheem yang dibocorkan, di Demi Masa ada CSDB FM yang juga dibocorkan melalui akun Soundcloud milik Ucok. Saya pun tak mau menunggu lama untuk mendengarkan lagu ini.

Seketika, BOOOOOM!

Terasa seperti musik hip-hop 90-an yang pernah sekilas saya dengar di radio butut milik kaka ketika saya masih kecil.

Masih terasa sulit bagi saya untuk mendeskripsikan musik. Maka dari itu, jika anda penasaran, langsung didengarkan saja ya. hehe!

Advertisements