Pertengahan tahun 2018, saya membeli sebuah buku kedua Ucok aka Herry Sutresna, Flip Da Skrip, di sebuah toko buku online, Elevation books. Saya memesannya melalui website. Seketika itu ada sebuah buku yang menarik perhatian saya. Desain sampul buku tersebut cukup menarik, yaitu bergambar sebuah IPod. IPod tersebut menunjukkan sedang memainkan sebuah tembang milik Joy Division: New Dawn Fades. Tembang itu pula yang menjadi judul buku ini. Kebetulan waktu itu buku ini juga belum diterbitkan. Akhirnya saya dengan percaya diri dan santai memesan buku Flip Da Skrip.

Beberapa bulan setelah kejadian tersebut, pengumuman resmi terpampang di akun media sosial Elevation yang menunjukkan buku yang saya taksir tadi telah terbit dan siap dipasarkan. Unutk membeli buku tersebut, saya harus melakukan berbagai usaha untuk mendapat uang. Ketika itu saya hanya fokus untuk persiapan ujian skripsi karena beberapa hari lagi saya melakukan ujian skripsi. Di kampus saya, memberi kado setelah mahasiswa melakukan ujian skripsi adalah sebuah tradisi. Sepertinya di kampus lain juga sama halnya. Di sini saya memanfaatkan suasana. Dalam hal apapun yang berhubungan dengan memberi kado (Ulang tahun, Seminar Proposal, atau Ujian Skripsi), pacar saya sering bingung untuk membelikan saya kado. Di sini saya menyuruh dia untuk membelikan buku yang saya taksir tadi. Dia pun hanya diam seperti tak ingin mengabulkannya, toh saya bisa membeli buku tersebut meski menunggu beberapa pekan lagi.

Ujian skripsi pun kelar. pacar saya datang membawa bingkisan kue dan sebuah kado tertutup. Saya tak yakin itu sebuah buku. Karena ukurannya yang tidak layaknya buku. Setelah sampai di rumah, saya buka kado tersebut. Ternyata benar. Isinya adalah buku yang saya inginkan. Saya terkejut karena ukurannya yang tidak sesuai dengan bayangan saya. Yang saya bayangkan waktu itu adalah ukuran A5. Ternyata lebih kecil. Yang membuat saya senang lagi adalah di dalam kemasan tersebut juga ada stiker Elevation. padahal, berkali-kali saya beli di sana, tak pernah mendapat stiker. Syukurlah.

Malam harinya, sebelum saya membaca, saya berjanji akan mengulasnya setelah membaca sampai tuntas. And the day comes!

Seperti ysng sudah saya jelaskan tadi, gambar iPod yang menjadi sampul-lah yang menarik perhatian saya. Meski secara oromatis saya selalu tertarik dengan setiap barang yang disuguhkan oleh Elevation.

Judul buku ini adalah New Dawn Fades: Panduan Mendengarkan Musik Awal Milenium. Tentu saja ini bukan buku panduan secara teknis. Seperti panduan beribadah, atau panduan lainnya. Namun buku ini “memandu” pembacanya menelusuri musik-musik berkualitas yang tak muncul di permukaan. Malah saya merasa dibawa ke suatu yang lebih dalam tentang belantika musik Indonesia maupun mancanegara. Sangat banyak musisi/band yang saya baru ketahui dari buku ini. Seperti Arcade Fire, Real Estate, dan masih banyak lagi, termasuk musisi-musisi timur tengah yang sama sekali saya tidak tahu sebelumnya.

Buku ini berisi 151 artikel, yang ditulis oleh tiga penulis: Taufiq Rahman, Harlan Boer, dan Adi Renaldi. Untuk 2 nama terakhir yang saya sebutkan, saya belum pernah membaca tulisannya sama sekali. Sampai detik ini pula saya juga tak tahu mana tulisannya di buku ini. Pasalnya, setiap artikel di buku ini tidak dijelaskan siapa penulisnya. Mungkin hanya tersirat saja.

Seperti buku terbitan Elevation sebelumnya, kecuali buku Ucok, buku ini juga membahas musisi dari timur tengah. Feeling saya mengatakan ini adalah tulisan dari Taufiq Rahman. Jika salah, berarti keintiman saya belum dekat dengan Elevation. Jika betul, mungkin hanya kebetulan. Ha!

Buku ini mengulas banyak musisi yang berkualitas namun masih terpendam di bawah tanah. Entah terpendam di bawah tanah, atau entah saya yang mainnya masih dekat-dekat sini saja. Banyak musisi yang baru saya ketahui melalui buku ini. Jika saya saja baru mengetahui, apalagi teman-teman saya yang selalu mendengarkan musik suguhan MTV. Wkwk

Selain mengulas album-album berkualitas dari band berkualitas yang tak tenar, buku ini juga menghadirkan daftar album 2 dekade awal abad 21. Dari situ saya mendapatkan banyak musik baru yang layak dengar. Seperti The Strokes. Sebenarnya saya sudah tahu band ini dari buku Taufiq Rahman yang lainnya. Namun dengan penjelasan yang menarik di buku ini, akhirnya saya pun mendengarkan melalui Spotify. Sayan saya dengarkan pertama adalah lagu nomer satu, Last Night. Sekilas, saya teringat dengan musik-musik Iggy Pop. Dan akhirnya, saya pun suka.

Melalui buku ini, penulis pun sangat berani memberikan daftar musisi yang seharusnya pension dari dunia musik. Menurutnya, musisi-musisi tersebut menciptakan musik atau lagu yang kuno yang aritnya tidak ada hal baru yang diberikan oleh musisi tersebut. Jika ini terjadi berulang-ulang, akan semakin banyak musik-musik jelek yang cukup menganggu telinga. Artikel ini berjudul “Yang Tak Kujung Pergi.” Seolah-olah penulis sangat mengingkan masa-masa akhir dari musisi tersebut. Beberapa band ternama yang saya sukai masuk dalam daftar ini. Seperti Metallica dan RHCP. Tapi, saya rasa apa yang dikatakan oleh penulis ada benarnya. Album anyar Metallica, pun RHCP tidak memberikan hal yang baru. Musiknya tetap sama seperti yang sebelum-sebelumnya dengan masing-masing kekhasannya.

Di buku ini, penulis tidak hanya membahas musisi-musisi internasional, namun musisi lokal pun turut dibahas. Saya telah mendengar lagu-lagu dari beberapa musisi lokal yang disebutkan di buku ini. Sayangnya, kebanyakan bukan lagu kesukaan saya. Dari sekian banyak yang disebutkan, hanya dua yang saya suka: Homicide dan Bandempo. Memang selera orang berbeda-beda.

Setelah saya membaca sampai selesai, saya baru paham dengan judulnya, “Panduan Mendengarkan Musik Awal Milenium.” Kata “Panduan” di sini memang tersirat. Sedangkan “Awal Milenial” saya pahami dari isinya yang menyajikan musisi-musisi era 2000-an ke atas. Ya mungkin ada beberapa musisi awal 90-an, namun masih tergolong kaum milenial.

Buku ini cocok bagi siapapun yang peduli dengan kesehatan telinga dengan cara mendengarkan musik. Pembaca akan merasa dicerahkan bahwa masih banyak harta karun yang terpendam.

Advertisements