Sudah lama saya tidak bermain Facebook. Sekali membuka Facebook pada akhir tahun lalu, di beranda saya muncul postingan dari Idhar Resmadi, seorang penulis musik yang saya tahu dari Samack. Postingan tersebut berisi tentang perilisan buku terbaru Idhar: Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya. Saya terkejut. Saya pun membaca secara teliti tentang postingan tersebut. Ternyata masih ada beberapa hari lagi bagi saya untuk mendapatkan buku tersebut. Karena buku itu akan dijual beberapa hari lagi di Gramedia seluruh Indonesia, khususnya Gramedia – Gramedia di kota besar.

Sehari setelah perilisan buku tersebut, saya pergi ke Gramedia terdekat pada sore hari. Sesampainya di sana, saya langsung menuju ke rak new arrival. Sayangnya di sana tak ada buku yang saya cari. Lalu saya menggunakan mesin pencarian yang telah di sediakan oleh Gramedia. Buku tersebut tertera di daftar, namun keterangannya kurang lengkap. Tak ada keterangan lokasi rak buku tersebut ditempatkan. Cara terakhir, saya menanyakan ke pekerja Gramed. Tanpa tedeng aling-aling, mbak tersebut menunjukkan letak buku yang saya buru. Tak lama kemudian, saya mengambilnya dan menuju ke kasir. Lalu pulang. Cukup membutuhkan waktu kurang dari 10 menit untuk mendapatkan buku tersebut.

Seperti biasanya, malam hari sebelum tidur saya membaca buku ini. Sebelum membuka ke halaman pertama, saya memperhatikan desain sampul yang cukup menarik. Menampilkan gambar musisi dari lintas genre. Padahal buku ini tentang dunia penulisan. Cara kemas yang cukup menarik.

Setelah itu saya memperhatikan sisi-sisi lainnya. Buku terbitan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) ini memiliki 198 halaman. Buku ini juga mendapat apresiasi yang positif dari kalangan penulis/jurnalis musik. Bahkan penulis musik favorit saya juga berkontribusi dalam buku ini, yakni si penulis prakata pada buku ini, Taufiq Rahman.

Perkenalan saya dengan Idhar, tentunya bukan perkenalan secara formal (jabat tangan, bertukar identitas, berkomunikasi, dll) adalah dari Mas Samack. Melalui fitur pesan di facebook, saya bertanya-tanya tentang penulis musik di Indonesia. Salah satu yang ia sebutkan ya Kang Idhar ini. Singkat cerita tentang Kang Idhar, dia adalah dosen di salah satu kampus di Bandung yang berangkat dari dunia musik, khususnya jurnalisme musik, yang sekarang menjadi penulis yang berpengaruh dalam dunia jurnalisme musik.

Di tengah era meredupnya jurnalisme musik, melalui buku ini, Idhar menjelaskan tetek bengek dunia jurnalistik musik. Saya menganggap meredup karena beberapa media musik mulai menurun performanya. Seperti Rolling Stones Magazine yang sudah angkat kaki dari Indonesia, Hai Magazine yang berhenti mengedarkan cetakannya, hingga yang terbaru webzine asal negeri Paman Sam, Maximum Rock n Roll juga berhenti terbit dan fokus pada online saja.

Buku setebal 198 halaman ini terdiri dari 9 bab yang semuanya mebahas tentang jurnalisme musik. Idhar membahas tentang sejarah jurnalisme musik yang telah ada di Indonesia sejak pra-kemerdekaan, dari media radio, cetak, hingga online seperti di era sekarang. Menurutnya, Jurnalisme Musik juga berperan terhadap perkembangan Industri Musik. Hubungan kedua kubu ini bagaikan simbiosis mutualisme. Yang terpenting, seperti kata Lester Bangs pada film almost famous: “Be honest and unmerciful.

Peran dari jurnalisme musik bukan hanya menjadi penyambung lidah industri musik. Namun juga menjadi kritikus industri musik. Dengan seabrek data yang terlampir di Daftar Pustaka, Idhar memaparkan tentang bagaiamana era awal kritik musik di Indonesia dan beberapa jenis kritik.

Buku ini sangatlah cocok untuk mereka yang ingin mendalami tentang jurnalisme musik, setidaknya penulisan musik. Karena Jurnalisme Musik dan Penulisan Musik memiliki perbedaan. Penulis musik itu berbeda dengan jurnalis musik. Dalam penulisan musik, penulis tidak dibatasi oleh aturan-aturan penulisan. Berbanding terbalik dengan jurnalisme musik yang diatur dengan kode etik jurnalistik.

Advertisements