2018 sudah terlewat 21 hari, namun saya tak peduli dan saya akan tetap menulis ini.

Banyak yang mengatakan kalo 2018 adalah tahunnya hip-hop. Bahkan di awal 2019 ini banyak yang meramalkan pula hip-hop akan tetap muncul di permukaan. Okay, let’s see.

Di tahun 2018, skena hip-hop Indonesia mulai menunjukkan eksistensinya. Bisa dilihat dari banyaknya album, rapper, event, hingga duel diss track yang memanas di dunia maya. Salah satu album terbaik tahun 2018 juga berasal dari hip-hop, yaitu Demi Masa yang disajikan oleh MC veteran, Morgue Vanguar dan Doyz.

Morgue Vanguar a.k.a Herry Sutresna a.k.a Ucok Homicide adalah salah seorang MC prominen di Indonesia. Berangkat dari kolektif hip-hop Homicide bersama Sarkasz, Ucok membawa angin segar di skena hip-hop Indonesia dengan lirik-liriknya yang cadas nan intelektual. Sedangkan Doyz adalah MC yang berasal dari duo Blakumuh, yang dikenal dari kompilasi Pesta Rap. Lirik-lirik yang ditulis Doyz juga turut mendobrak standardisasi lirik di Indonesia kala itu. Ucok dan Doyz adalah salah dua MC yang turut mengembangkan skena hip-hop Indonesia sejak 90-an. Maka dari itu, album Demi Masa ini menurut saya bukan album hip-hop yang asal-asalan.

Melalui album ini, Ucok dan Doyz dengan karakternya masing-masing, menyuarakan masalah-masalah sosial yang tak selesai-selesai. Mereka berdiri bersama rakyat. Tanpa mendengarkan lagunya, siapapun (asal tidak buta) bisa melihat dari kartu ucapan yang disematkan di album ini. Kartu ucapan itu berisi Bebaskan Budi Pego, Bebaskan Sawin, Sukma dan Nanto. Mereka adalah rakyat yang mempertahankan tanahnya dari penggusuran paksa oleh apparat yang dibayar oleh investor tentunya.

Selain menyajikan lagu, terdapat pula selembar lirik dan booklet yang berisi foto. Foto-foto pada booklet ini sangat vintage, yang membuat album ini semakin terlihat artistik.

Ada 12 lagu di album ini. Dari keduabelas lagu tersebut, Ucok dan Doyz mengundang beberapa MC untuk bersedia “berorasi” di 3 lagu. Tamu-tamu yang diundang bukan tamu sembarangan. Mereka adalah Iwa K, Mr. EP, Sarkasz, dan Rand Slam. Hmm, album edan lek iki.

Officially, mereka membocorkan album ini melalui Soundcloud. Lagu yang dibocorkan adalah CSBD FM. Melalui lagu ini, saya kira siapapun akan berpikir bahwa mereka akan membeli album ini setelah rilis. Pasalnya, lagu yang dimeriahkan pula oleh Iwa K ini cukup menarik dengan musik 90an-nya.

Meski CSBD FM dibocorkan beberapa pekan sebelum album ini dirilis, ada sebuah lagu yang malah disebarkan setahun sebelumnya, yaitu Check Your People. Lagu ini telah dirilis pada tahun 2017 beserta PDF tentang pengkabaran perampasan tanah di Indonesia. Di album ini ada 2 nomor Check Your People, yang asli dan yang remix. Perbedaan ini terletak dari sample-sample yang digunakan.

Saat saya mendengar album ini, pikiran saya tertuju pada Homicide. Lirik-lirik yang sangat kritis dibalut dengan musik hip-hop cadas membuat album ini berbeda dengan hip-hop kebanyakan. Apalagi ketika mendengarkan track Buckshot Funk yang diisi oleh Sarkasz, kolega Ucok di Homicide dan Bars of Death, yang mana tak ingin menulis lirik asal-asalan seperti yang ia katakan pada video “Retrospektif Homicide” yang saya lihat di YouTube. Ditambah suara gitar yang sering dilakukan oleh Homicide menjelang “kematiannya.”

Lagu favorit saya di sini adalah Check Your People, tentunya bukan yang remix. Lagu ini bercerita tentang segala kekacauan sosial yang terjadi di Indonesia. Sering saya memutar lagu ini ketika saya bersama teman “aktivis”. Namun ia tak peduli meski liriknya jelas seperti: tinju di angkasa/ untuk mereka yang sagunya tergantikan sawit di Papua/ untuk mereka yang terhimpit tambang liar di Bone/ Sinai hingga Gowa/…. Entah, saya tak paham dengan “aktivis” seperti ini, yang tak pernah membahas masalah sosial dan lebih mencari “tangga” untuk naik ke atas.

Overall, lagu-lagu pada album ini memiliki kualitas yang pol, dengan lirik yang penuh metafora dan analogi, dan dibalut dengan sample-sample yang membuat setiap lagunya terdengar berkarakter.

Advertisements