45-musik-1.jpgBelantika permusikan Indonesia akhir-akhir ini diramaikan oleh draft RUU Permusikan. Memang ini masih berbentuk rancangan, namun RUU ini telah ditentang oleh banyak musisi Indonesia. Bahkan, menurut KOMPAS, ada 260 musisi Indonesia yang menolak RUU ini. Jumlah sebanyak itu saya kira cukup membuktikan bahwa RUU ini, apabila disahkan dan lolos menjadi UU, akan merugikan banyak musisi. Ucok Homicide, MC favorit saya tentunya, mengatakan bahwa RUU ini semacam gabungan Orba dan Orde Lama karena beberapa pasal karet.

Iya benar, para musisi menolak RUU karena pasal-pasal karetnya, terutama pasal 5 dan pasal 32. Untuk isinya, banyak bertebaran di media sosial kok, hehe. Intinya, pasal 5 membawa larangan bagi para musisi untuk membawa budaya barat yang negative, merendahkan harkat martabat, menistakan agama, hingga membuat musik provokatif. Secara sekilas memang positif. Namun jika dicermati lagi, pasal-pasal ini sangat molor seperti karet.

Di pasal lainnya, pasal 32, seniman diwajibkan untuk melakukan uji kompetensi jika ingin diakui profesinya. Uji kompetensi ini sudah pernah dicoba. Antara lain yang diuji adalah membaca not, dan menulis not. Saya ambil contoh saja, Anji adalah musisi yang sudah populer di Indonesia. Di channel YouTube-nya, ia mengaku tak bisa membaca dan menulis not balok. Apakah ia harus uji kompetensi? Ternyata tidak. Karena menurut pasal 35 dijelaskan bahwa musisi atau seniman yang sudah memiliki karya, dan diakui khalayak umum, tidak perlu melakukan uji kompetensi dan secara otomatis sudah tersertifikasi. Peraturan yang tak cukup penting saya kira.

Pasal lainnya misalnya, yaitu pasal 10 yang mengatur soal distribusi karya musisi. Saya kira ini sangat membelenggu para musisi yang ada dijalur independen, dan sama saja masuk dalam label rekaman milik industri. Cukup mengekang.

Namun itu beberapa pasal yang ditentang para pelaku musik. Saya sendiri bukan pelaku musik dan tentu saya memliki pandangan yang sama meski tak semuanya sama. Sebelum menulis opini ini, saya melihat video Anji yang mengundang Anang Hermansyah, yang notabene jadi bulan-bulanan JRX. Menurut Anang, dasar RUU ini diambil dari banyak sumber. Salah satunya adalah hasil Konferensi Musik di Ambon tahun lalu. Jika memang benar, harusnya siapapun yang datang pada konferensi tersebut bisa menjelaskan hasil-hasilnya. Atau DPR selaku pembuat gaduh ini membuat konferensi musik yang sama seperti di Ambon (Jika ingin membuat UU musik).

Namun, jika seorang penulis musik favorit saya, Taufiq Rahman, bereaksi tentang RUU ini, haqqul yaqin dan maqueen yaqueen bahwa RUU ini ada sangat perlu diprotes.

Ya memang ini masih bentuk rancangan. Masih rancangan saja sudah menuai kontroversi, apalagi jika sudah disahkan?

Advertisements