20190419_185248_0000Sudah lama saya tak membuat daftar lagu pilihan. Kemarin mencoba mencari ide baru. Ketika enak-enak merokok di teras kamar kos kawan, tiba-tiba terlintas sebuah ide yang cukup bagus, yaitu lagu favorit selama satu pekan. Terlihat sederhana, namun untuk membuatnya lebih menarik, saya melibatkan teman-teman di Instagram. Berbekal fitur question di insta story, saya meminta teman-teman untuk menuliskan satu lagu favoritnya selama satu pekan. Karena saya bukan seleb yang memiliki banyak follower, jadinya hanya sedikit yang membantu saya dalam proses penulisan naskah ini. wkwk, naskah 😀

Padahal, banyak teman yang suka musik. Tapi entah kenapa mereka enggan membantu saya. Apakah musik favorit adalah aib? Saya kira, iyaa wkwk

Oiya, untuk Songs of Friends’ Week akan saya lakukan setiap pekan. Jadi, jika anda ingin berbagi lagu favorit, atau membantu saya dalam pencarian musik baru, silahkan kunjungi Instagram saya setiap hari Jumat.
oke, langsung saja ya….

  1. The Dopamines – Business Paper

The Dopamines, sebuah band punk rock asal Ohio, Amerika yang dibentuk pada tahun 2006. Masih cukup muda bagi saya. Band ini telah menelurkan beberapa album, salah satunya Tales of Interest yang salah satu penghuni album ini adalah Business Paper. Lagu ini menjadi favorit teman saya pada pekan ini. Menurutnya, lagu ini sangat cocok dengan perasaannya ketika sedang, kalo bisa dibilang, sumpek. Ya memang cocok sih kalo karakter musik punk rock dijadikan pelampiasan. Ditambah dengan lirik-lirik tentang memperdulisetankan keadaan.

Business Paper sendiri menceritakan seseorang yang mendapat perlakuan kasar dari sekitarnya, dan lebih memilih bersembunyi. Seperti sepenggal lirik yang menjadi favorit teman saya
I bet you’re probably thinking that someone my age

Would have all his shit straight

I just want to hide

I’m socially fried

Sebelumnya, saya tak tahu akan band ini. Terima kasih telah memberikan saya suatu musik yang segar.

  1. Down For Life – Liturgi Penyesatan

*hanya untuk pikiran dewasa

Saya tak begitu mengikuti perkembangan Down For Life. Mungkin hanya sebatas info manggung saja. Namun, tak pernah mendengarkan lagunya sama sekali. Hanya cuplikan-cuplikan videonya saja. Band yang telah berdirik di akhir 90-an, baru-baru ini bermain di kancah metal international, yaitu Wacken Open Air yang dihelat di Jerman. Sebuah pembuktian kepada dunia bahwa skena metal Indonesia cukup dipertimbangkan.

Liturgi Penyesatan, sebuah lagu di album Himne Perang Akhir Pekan ini menjadi lagu favorit teman saya yang datang dari SMP. Memang dia cukup konsisten menjadi seorang metalhead. Menurutnya, lirik lagu ini cukup cocok dengan keadaannya saat itu. Mari kita tilik secara proporsional sesuai pengetahuan sempit saya.

Musiknya sangat garang dan sarat ditorsi. Ditambah suara vocal yang berkarakter. Terhitung pas sebagai kendaraan untuk mengantar pesan-pesan pada liriknya.

Lagu ini dibuka dengan syair indah yang diambil dari Al-Quran, lalu dikemas dengan musik gahar khas metal. Secara langsung, melalui liriknya, DFL mengkritik beberapa khasus terakhir yang sering heboh di Indonesia, yaitu masalah keyakinan, serta krisis toleransi yang seolah-olah ingin menyeragamkan Indonesia.

pendustaan atas nama tuhan

keagungan nabi nabi baru

pembenaran akan kesalahan

pembodohan akan kebebasan

  1. The Panturas – Sunshine

Seorang teman merekomendasikan saya untuk mendengar lagu ini, karena lagu ini berhasil menjadi lagu favoritnya pada pekan pertama februari ini. The Panturas sendiri adalah pendatang baru di belantika musik Indonesia yang mengambil aliran surf rock. Dengan aliran tersebut, melalui The Panturas, pendengar rasanya diajak menikmati sepoi-sepoi angina laut yang muncul dari aura musiknya. Dan ini menyadarkan saya bahwa bukan hanya reggae yang bisa membawa suasana pantai.

Lagu ini merupakan satu lagu yang mengisi album Mabuk Laut yang baru dirilis tahu lalu. Sunshine adalah lagu cinta, yang menceritakan kekaguman kepada seseorang. Mungkin saya kira seseorang yang dituju di sini adalah sosok ayah. Karena pada video klipnya, tersajikan sebuah aktivitas sederhana antara ayah dan anaknya. Seperti merokok dan makan tahu sumedang bersama di dalam mobil.

            It’s getting dark there’s no light from above, you know

            You know that you will always be my sunshine

  1. The Upstairs – Matraman

The Upstairs, band Indie era 2000an, sebelum banyak orang mengira bahwa musik indie adalah musik folk. Sama seperti Bandempo, ataupun Naif, The Upstairs juga berasal dari IKJ (Institute Kesenian Jakarta). Band yang dibentuk pada tahun 2001 ini terpengaruh dengan aliran New Wave seperti A Flock of Seagulls, hingga Joy Division dan disajikan dengan lirik naratif yang mengalir.

Untuk lagu ini, tidak ada urusan dengan teman-teman saya lagi. Karena lagu ini adalah lagu favorit saya pekan ini. Terhitung terlambat karena baru-baru ini saya memutuskan untuk mendengar The Upstairs. Lagu Matraman sendiri adalah salah satu penghuni di album yang berjudul sama, yaitu Matraman yang dirilis pada tahun 2004.

Lagu ini adalah sebuah lagu cinta. Menurut sang penulis lirik, lirik pada reffnya dibuat secara spontan dan sesuai dengan kisah nyata. Dibuka dengan

Demi trotoar dan debu yang beterbangan,

ku bersumpah.

Demi celurit mistar dan batu terbang pelajar,

ku ungkapkan.

Membuat lagu ini menampilkan karakter cinta jalanan yang cukup liar.

  1. Sabyan – Maulana Ya Maulana

Sebuah lagu islami pilihan teman saya, tentunya. Menurutya, lagu ini membuatnya tenang. Karena saya tidak pernah mendengar secara intens tentang lagu ini, apalagi membaca di sebuah artikel, jadi saya tak bisa menulis panjang lebar.

PEACE OUT!

Advertisements