D3NhXGYUgAEUAIg (1)
sumber: twitter @watchdoc_ID

Diawali dengan “Samin vs Semen”, rumah produksi WatchDoc resmi menutup dokumentasi ekspedisinya dengan film “Sexy Killers”. Ekspedisi yang dinamakan “Ekspedisi Indonesia Biru” tersebut memakan waktu selama satu tahun karena rutenya yang cukup edan. Berangkat dari Jakarta, mereka langsung bertolak ke Banten untuk tujuan pertama. Dari situ mereka memulai perjalanan mengelilingi Indonesia melawan arah jarum jam. Saya sendiri baru mengikuti cerita ini pada tahun 2015. Gerbang masuk saya waktu itu adalah musisi-musisi di Bali. Pada saat itu gerakan Bali Tolak Reklamasi sedang ramai-ramainya. Lalu terbitlah sebuah film documenter berjudul “Kala Benoa”.

Kembali ke “Sexy Killers” (selanjutnya disebut SK), sejak saya mengkuti Watchdoc dari 2015, baru kali ini saya merasakan animo yang sangat kuat mengenai Watchdoc. Singkat cerita, film ini mengisahkan dampak negatif dari adanya pertambangan batu bara dan PLTU. Kebetulan pula di balik itu semua ada pejabat-pejabat pemerintahan yang akan bertanding di pemilu. Dari situ muncul anggapan negatif dan positif. Banyak orang mengatakan film ini mengajak masyarakat untuk golput. Padahal, film ini hanya menyampaikan pesan kepada masyarakat tentang apa yang tidak banyak diketahui oleh banyak orang. Tidak ada ajakan untuk golput. Jadi, dari mana munculnya anggapan bahwa film ini mengajak orang untuk golput? Saya tidak tahu. Dirilis sebelum pemilu? Ya memang wajar. Banyak kok produser-produser film yang merilis filmnya menentukan momen untuk menggaet banyak penonton

Selain itu, beberapa orang juga mmenyangka bahwa film ini timpang. Maksud “timpang” di sini adalah ada keberpihakan seorang filmmaker. Tentu saja itu sah, karena SK, sama seperti film-film sebelumnya, merupakan bentuk jurnalisme advokasi yang mana mengambil sudut pandang non-objektif dengan tujuan sosial. Sebelum film ini beredar, saya kira banyak orang tidak tahu kejadian-kejadian yang menimpa rakyat kecil sekitar tambang dan PLTU. Toh, media yang notabene harus cover both sides aja banyak yang berpihak pada satu kepentingan.

Tak ada solusi dalam film ini. Saya kurang paham tentang perfilman. Namun, apa yang dikatakan oleh mas Angga Sasongko cukup menambah wawasan saya tentang perfilman. Sutradara film Filosofi Kopi tersebut mengatakan bahwa memberikan solusi bukan tugas sebuah film. Dari sini saya jadi sadar bahwa kedatangan saya di acara nobar SK adalah sebuah hal yang spesial. Karena dengan nobar yang diadakan oleh komunitas, siapapun akan dapat pencerahan melalui diskusi yang diadakan setelah film selesai.

Di linimasa twitter saya pula ramai orang-orang me-retweet cuitan yang menceritakan pengalamannya hidup di daerah tambang bahwa yang diceritakan di film SK itu tidak absolut benar. Karena beberapa orang sekitar banyak yang mendapat keuntungan dari adanya tambang. Untuk ini saya belum mendapatkan bukti real berupa foto, video, dsb. Jadi, untuk menyanggah film SK, lebih baik orang yang bersangkutan menujukkan bukti nyata.

Kalau percaya dari omongan saja, saya sepenuhnya juga percaya dengan seorang pemantik diskusi waktu saya nobar SK. Ia adalah seorang perempuan yang juga salah satu aktivis JATAM. Setelah film kelar, ia menceritakan pengalamannya di Kalimantan Timur khususnya di daerah tambang. Waktu itu ada seorang anak meninggal di kubangan tambang. Dia mendatangi rumah korban. Sesampainya di sana, dia dihampiri oran-orang bertampang “preman”. Dikira preman tersebut, si mbak ini adalah wartawan. Namun mbak tersbut mengaku teman dari guru korban. Si “Preman” tersebut mengatakan bahwa kalo wartawan tidak boleh memberitakan kejadian tersebut. Di sini sudah jelas bahwa pertambangan memiliki lapisan pertahanan yang sangat kuat berupa preman. Untuk membentengi pertambangan tesebut, para preman tak ragu untuk membunuh siapapun yang melawan. Cerita ini tidak akan didapat jika nonton SK hanya di YouTube saja.

Menurut hemat saya, film ini sekedar menyampaikan efek negatif dari adanya tambang batu bara dan PLTU secara utuh, bukan untuk berhenti menggunakan listrik yang dipasok batu bara. Kita bebas menyimpulkan sesuatu sesuai kadar logika kita.

Advertisements