37783457_2076088772415007_3780235209539059712_n.jpg
Sebelum menuju Ranu Pani.

Sebelum menuju Ranu Pani.

“Ayo ikut ke Semeru,” ajak seorang kawan saat kami sedang membicarakan rencana buka bersama. Tak butuh waktu lama saya langsung menyahutnya dengan pertanyaan, “Kapan?”. “Dua minggu setelah lebaran” jawabnya. Tak perlu berpikir panjang, dengan keadaan kantong yang cukup berisi saya mengiyakan tawaran itu. Waktu itu saya sudah berencana mendaki Gunung Butak yang terdapat di area Malang Raya pula, namun Semeru lebih menggiurkan. Sebelumnya saya sudah pernah mendaki gunung ini, namun hanya sampai Ranu Kumbolo, danau yang indah itu, karena salah seorang kawan baru ingat kalau ada acara penting lainnya. Terpaksa kami tak melanjutkan perjalanan menuju Mahameru.

Dan untuk ajakan kawan saya kali ini, dia mengatakan estimasi pendakian ini akan memakan waktu 4 hari 3 malam. Dengan durasi yang cukup lama itu, saya pastikan perjalanan ini tidak akan berhenti sampai di Ranu Kumbolo saja. Saya pun semakin semangat untuk mendaki Semeru.

Seminggu setelah lebaran, saya menyiapkan alat-alat pendakian ke Semeru. Dari tas carier, matras, hingga sepatu gunung yang saya pinjam ke teman saya, hehe. Namun pada akhirnya sepatu tersebut tak keluar dari carier sama sekali karena saya lebih nyaman berjalan dengan sandal Eiger mengingat track Semeru yang cukup landai.

Di akhir Juni, tepatnya tanggal berapa saya lupa, harinya untuk mendaki pun tiba. Semalam sebelumnya kami berangkat ke rumah teman yang terletak di Tumpang. Di sana kami numpang tidur semalam karena keesokan paginya kami harus bertolak ke sebuah camp di daerah Tumpang untuk berangkat ke Ranu Pani menggunakan Jeep.

Keesokan pagi sekitar pukul 06.00 kami menuju ke camp yang terletak di sekitaran Pasar Tumpang. Di Pasar Tumpang sendiri banyak para pendaki yang juga ingin menuju ke Semeru. Banyak dari mereka yang tak memanfaatkan jasa penyewaan jeep dan langsung menuju Ranu Pani menggunakan motor. Untuk jumlah yang sedikit memang lebih baik menggunakan motor, namun untuk keamanan yang lebih ya mending mobil. Kami sendiri menyewa jeep karena jumlah orang yang cukup banyak. Meski begitu, beberapa dari kami ada yang menggunakan motor. Tak masalah.

foto: facebook Agung C Darmansyah

Sekitar pukul 10-11 an kami tiba di Ranu Pani, selanjutnya kami menuju loket dan tetek bengeknya untuk mengurus administrasi. Entah ada apa tidak di gunung-gunung lainnya, sebelum mendaki ke Semeru para pendaki harus berkumpul dulu di suatu aula yang ukurannya cukup menampung ratusan pendaki. Di sana para pendaki diberi petuah-petuah ketika mendaki Semeru, tentang larangan dan pantangan yang harus diwaspadai para pendaki. Seperti mengambil Bunga Verbana yang dilarang. DIlarang bukan karena bunganya yang langka, namun bunga itu parasit meski warnanya indah menyerupai lavender.

Selang 30 menit, pendakipun dipersilakan keluar dan mengambil tiket. Antrian panjang di loket membuat para pendaki menunggu cukup lama. Waktu itu saya pun memilih untuk tidur, hehe.

Sekitar pukul 3 sore kami pun mulai mendaki Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu. Dengan rombongan yang beranggotakan banyak orang, perjalanan kami terbagi dari beberapa kelompok. Meski sudah dibagi kelompok, namun kondisi lapangan akan berbeda. Dalam perjalanan kami melupakan sejenak tentang kelompok, dan saya berjalan di bagian yang paling akhir. Dengan pendakian yang dimulai sore hari, saya pastikan kami akan sampai di Ranu Kumbolo malam hari. Untuk menuju Ranu Kumbolo dari pintu masuk pendakian, para pendaki akan melewati 4 pos. Perjalanan dari pintu masuk hingga pos 3 cukup landai. Sebuah tanjakan yang curam ada di pos 3, namun curamnya hanya sebentar. Saya sampai di pos 3 sekitar pukul setengah 6 petang. Di sana saya bertemu separuh rombongan saya yang juga sedang beristirahat sembari memakan gorengan dengan bumbu yang sangat enak. Gorengan terenak yang pernah saya makan. Suasana waktu itu mulai gelap, kabut dan gerimis. Suasana favorit saya. 15 menit kemudian kami melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan kami terpisah dengan rombongan sebelumnya. Hujan semakin deras. Kami memutuskan berhenti hanya untuk memakai jas hujan, lalu melanjutkan perjalanan ke pos 4. Track yang basah dan licin tak jarang membuat beberapa pendaki terpeleset. Sesampainya di pos 4, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak meski Ranu Kumbolo sudah terlihat jelas. Kami pun menyulut kretek dan membuat segelas kopi sebelum lanjut ke seberang Ranu Kumbolo di mana tenda-tenda kami sudah dibangun oleh kawan-kawan yang sampai terlebih dahulu.

Setelah sebatang kretek habis, kami berjalan menuju kumpulan tenda yang cukup banyak. Karena hari sudah sangat gelap, kami cukup kesulitan mencari teman-teman lain. Untungnya ada beberapa kawan yang telah menunggu kami di shelter. Sesampainya di tenda, kami langsung ganti baju dan istirahat untuk perjalanan esok menuju Kali Mati, pos terakhir pendakian Gunung Semeru.

Advertisements