img_54386669048366247441123.jpgSaya terbangun sekitar pukul 8 pagi di mana teman-teman lain sudah bangun terlebih dahulu. Beberapa teman berfoto ria di sekitaran danau dan padang savana oro-oro ombo yg dulunya terhampar luas lautan verbana berwarna ungu. Namun sekarang sudah dibasmi karena sifatnya yang parasit. Beberapa teman menyiapkan sarapan. Menu sarapan kami saat itu adalah pecel. Masakan yang tak susah-susah amat dibikin, namun tetap lezat untuk perut yang sangat lapar. Sembari menunggu masakan matang, sebagian teman menyeduh kopi untuk disandingkan bersama kretek. Kopi dan rokok adalah perpaduan yang sangat paripurna di sejuknya Ranu Kumbolo.

img_55465778305947804074310.jpg

Di jam yang sepagi itu, rata-rata pendaki yang bermalam di Ranu Kumbolo juga sedang masak untuk sarapan. Beberapa juga ada yang melanjutkan perjalanan ke Kali Mati. Memang harus pintar-pintar mengatur waktu agar sampai tujuan tepat waktu dengan nyaman, karena kondisi cuaca di gunung tidak mudah diprediksi.

Tak lama kemudian sarapan sudah siap dihidangkan. Setelah menyantap masakan yang lezat tersebut, kami langsung merapikan tenda dan bersiap melanjutkan perjalanan ke Kali Mati. Akhirnya saya menuju Kali Mati juga.

Sekitar pukul 12 siang kami bertolak ke Kali Mati. Sama seperti sebelumnya, saya mengambil bagian di belakang. Fisik saya tak sangat kuat. Sebelum melakukan pendakian, saya tak melakukan persiapan fisik. Alhasil saya cepat kelelahan. Setelah mendaki Bukit Cinta di Ranu Kumbolo saja, saya langsung berhenti untuk mengambil nafas beberapa menit. Sehabis melewati Savana Oro-oro Ombo, kami berhenti lagi di Pos 5 Cemoro Kandang. Di pos tersebut ada beberapa pedagang semangka dan gorengan yang kelezatannya tak akan kalian temukan di kota-kota kalian. Coba saja kalau gak percaya.

Sekitar 15 menit beristirahat, kami melanjutkan perjalanan kembali.

cemoro
sumber: backpackerjakarta.com

Perjalanan dari Pos 5 menuju ke Kali Mati cukup menanjak. Para pendaki akan menikmati rimbunnya hutan cemara sembari mendaki tanjakan yang cukup menguras tenaga. Sebelum Kali Mati ada pos 6 di dataran yang cukup luas bernama Jamblangan. Di sini juga ada beberapa pedagang seperti di pos-pos sebelumnya. Namun waktu kami sampai di sini para pedagang sudah pulang karena waktu sudah sore. Dan katanya, konon di Jamblangan sering berkeliaran hewan-hewan buas macam harimau. Beberapa pendaki menyarankan agar tidak bermalam di sini.

View di Jamblangan cukup bagus. Puncak Mahameru terlihat sangat gagah menjulang ke langit. Pemandangan yang indah tersebut membuat saya semakin semangat menuju Kali Mati. Track dari Jamblangan ke Kali Mati cukup landai dan tak menguras banyak tenaga. Saya pun tak berhenti untuk istirahat.

jamblangan
Jamblangan. (sumber: manusialembah.com)

Sama seperti perjalanan menuju ke Ranu Kumbolo hari sebelumnya, kami mendapat hujan meski tak selebat seperti sebelumnya. Kami terus melaju karena sudah tertinggal cukup jauh dengan rombongan yang di depan. Sesampainya di Kali Mati, kami cukup kebingungan mencari teman-teman yang sudah sampai terlebih dahulu.

Sama seperti di Ranu Kumbolo, di Kali Mati terdapat shelter meski tak seramai di Rakum. Di sana sebagian teman sudah menunggu untuk menjemput kami yang datang terlambat.

Sesampainya di camp, saya langsung menuju tenda saya. Di sana kawan-kawan sudah menyiapkan beberapa bahan kehangatan, kopi salah satunya. Setelah menyeruput sekali duakali, saya masuk tenda untuk ganti baju. Cuaca di Kali Mati sangat dingin meski habis hujan. Biasanya saya tak lebih kedingingan ketika hujan.

Grimis terus mengguyur. Kawan-kawan semuanya masuk ke tenda masing-masing. Ada yang memasak, menyeduh kopi, dan ada pula yang mengantuk, saya tentunya. Meski mengantuk, saya tak bisa tidur dan lebih memilih merokok.

Sembari merokok, saya memutuskan tidak berangkat menuju tanah tertinggi di Pulau Jawa alias Puncak Mahameru. Dengan kondisi yang sangat lelah, saya tak bermental baja menakhlukkan Mahameru. Daripda ada apa-apa di tengah jalan dan merepotkan yang lain, mending tidak.

Saat mengambil keputusan tersebut, kawan-kawan yang berencana mendaki Mahameru sudah tidur. Sekitar pukul 11 malam, saya membangunkan teman-teman yang akan bertolak ke puncak. Dari sekitar 19 orang, yang berangkat ke puncak hanya 8 orang. Sebagian besar memutuskan untuk berhenti di Kali Mati. Memang harus benar-benar yakin untuk menuju ke Mahameru mengingat track yang sangat menanjak curam dan berdebu, ditambah jurang Blank 75 yg sering memakan korban.

Setelah beberapa kawan berangkat ke Mahameru, saya mengambil bagian untuk tidur nyenyak. Hehe

Advertisements